Jumat, 07 Maret 2014

Persiapan Pembuatan Mebel : Menginterpretasikan Gambar Kerja

Persiapan Pembuatan Mebel : Menginterpretasikan Gambar Kerja

Dalam pembuatan mebel hendaknya kita mengerti lahirnya sebuah mebel hal tersebut untuk menghindari duplikasi desain sehingga diharapkan seseorang pembuat mebel tidak hanya bisa sekedar menjiplak dari yang ada atau mengkopi dari desain orang lain yang laku dipasar, dengan demikian akhirnya diharapkan juga bisa menginterprestasikan gambar kerja dengan baik.

1. Pengetahuan desain
Kata desain mengandung arti yang sangat luas yaitu suatu sistem yang berlaku untuk segala macam jenis perancangan, di mana titik beratnya adalah melihatnya sesuatu masalah/obyek tidak secara terpisah atau sendiri, melainkan sebagai suatu keseluruhan di mana satu masalah saling kait mengkait yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Merancang adalah proses mencipta bentuk melalui sketsa dari yang belum ada menjadi nyata/kenyataan dengan maksud tertentu, biasanya karya rancang adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis misalnya kursi, tidak hanya tampak menarik, tetapi harus berdiri kokoh, nyaman diduduki, dan aman digunakan.

Sehingga desain adalah upaya manusia untuk memecahkan kebutuhan fisik dengan pendekatan penyelesaian melalui keterampilan, dengan pertimbangan ekonomis, teknologi, bahan, estetis (keindahan) atau keseluruhan. Dalam budaya industri, desain adalah suatu upaya penciptaan model, kerangka, bentuk, pola atau corak yang direncanakan dan dirancang sesuai dengan tuntutan kebutuhan manusia/pemakai, dalam hal ini disebut juga konsumen akhir.

Dengan demikian desain lebih banyak dipengaruhi oleh kecepatan membaca situasi, pemenuhan kebutuhan pasar, permintaan konsumen, serta kekayaan akan ide-ide dan imajinasi untuk menciptakanya serta pengembangkan desain produk baru

Untuk mendapatkan ide, desainer bisa memperoleh inspirasi dari lingkungan kehidupan di sekitarnya yang tiada habis-habisnya dengan cara merenung, melihat, mengasosiasikan dan mengembangkan ide yang pada akhirnya mendapatkan sesuatu yang sangat berguna terhadap hasil karyanya, misalnya alam merupakan guru terbaik bagi desainer untuk mendapatkan ide, sehingga hal demikian ini banyak dijumpai suatu hasil karya yang ditemukan masih ada hubungannya dengan alam.
Proses penggalian ide masih dapat dilihat dan dianalisa dalam pikiran manusia melalui bentuk konsep yang optimal, serta penggalian ide tidak terbatas apa yang ada yang pernah kita lihat namun bisa dengan membuat trial and eror sampai mendapatkan yang dikehendaki.

Problem solving merupakan pemecahan masalah dalam mewujudkan sebuah produk baru (new product) atau penemuan baru (invention). Metode praktis berpikir inovatif adalah salah satu cara sederhana dalam membuat gagasan desain yang memiliki unsur kebaruan. Langkah ini dapat dipakai untuk mendapatkan produk baru mulai dari Perencanaan, Konsep, Desain, Gambar Kerja dan Pembuatan Model/ Prototype


2. Prinsip-prinsip desain
2.1. Proporsi (proportion)

Perbandingan antara bentuk elemen besar dan kecil. Proporsi menyangkut suatu hubungan bagian dengan bagian yang lain atau bagian dengan keseluruhan, atau antara satu obyek dan obyek yang lainnya.
Proporsi bertalian erat dengan hubungan antara bagian-bagian di dalam suatu komposisi, hubungan ini dapat berbentuk suatu besaran, kuantitas atau tingkatan.


KUBUS PENDEK JANGKUNG KURUS Perabot yang proporsinya sangat berbeda
Gb. 2.3. Proporsi

2.2. Skala (scale)
Dalam prinsip desain terdapat beberapa skala yang lazim dipakai dalam desain yaitu skala mekanik dan skala visual, skala mekanik adalah perhitungan sesuatu fisik berdasarkan sistim ukuran standar, bisa dengan cm, mm, inci, kaki dan lain sebagainya, sedangkan skala visual adalah merujuk pada besarnya sesuatu yang tampak karena diukur terhadap benda-benda lain disekitarnya.
Kita dapat mengatakan berskala kecil jika kita mengukurnya dengan membandingkan terhadap benda-benda lain yang umumnya jauh lebih besar ukurannya, begitu pula sebaliknya.

2.3. Keseimbangan (balance)
Prinsip keseimbangan dalam desain adalah menyangkut kepekaan kita terhadap ketidak-teraturan dan keseimbangan, karena ketidakseimbangan akan menimbulkan perasaan tidak tenang, tidak sesuai, sehinggga untuk mendapatkan keseimbangan harus mempertimbangankan "bobot visual", yaitu suatu elemen yang ditentukan oleh ukuran, bentuk, warna dan tekstur.
Ada dua kelompok keseimbangan yang perlu kita mengerti adalah keseimbangan formal dan keseimbangan informal
(a) Keseimbangan formal
Keseimbangan formal adalah keseimbangan yang dapat dicapai dengan menata elemen-elemen sebelah kanan dan kiri garis simetris yang mempunyai bobot visual sama contoh: meja dapur dan lampu sebelah kanan dan kiri adalah sama sama jumlahnya maupun penataanya dan mempunyai jarak yang sama terhdap garis pusat.
(b) Keseimbangan informal
Keseimbangan informal (asimetris) adalah keseimbangan yang dicapai dengan menata elemen yang tidak sama, misal mebel yang tidak sama (asimetris ) di kanan dan kiri garis, meja dan elemen dinding di kanan dan kiri garis sumbu tidak sama

2.4. Keselarasan (harmoni)
Harmoni dapat didefinisikan sebagai keselarasan atau kesepakatan yang menyenangkan dari beberapa bagian atau kombinasi beberapa bagian dalam satu komposisi. Suatu perencanaan yang unsurnya selaras, akan terasa sebagai suatu kesatuan, bukan sekadar penggabungan dari beberapa bagian yan lepas satu sama lainnya. Untuk mendapatkan keharmonian dapat digunakan unsur-unsur yang sama, akan tetapi harmoni jika dipaksakan dalam penggunaan unsur-unsur dengan aspek yang sama dapat menghasilan komposisi dengan suatu kesatuan tanpa daya tarik.

2.5. Kesatuan dan keragaman (unity dan variety)
Prinsip keseimbangan dan harmoni, dalam mencapai kesatuan, tidak mengesampingkan usaha mengejar variasi dan daya tarik, untuk mencapai kesatuan yang diinginkan dapat diusahakan tetap mempertahankan elemen yang paling dominan yang terus berulangulang, sedangkan keragaman merupakan bagian yang dapat memperkaya perbedaan namun tetap bernuansa satu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Facebook Comments