Rabu, 12 Maret 2014

Bahan kerja (Merencanakan Kebutuhan Bahan 1)

Bahan kerja (Merencanakan Kebutuhan Bahan 1)

Bahan kerja untuk pembuatan mebel kayu harus memenuhi syarat kekeringanya (kadar air), cacat /serat, kelas, umur dan pada umumnya kayu tua lebih tahan terhadap serangan hama.

Gambar 2.22. Proses Penyediaan Bahan
 
Bahan Mebel
Proses penyediaan bahan mebel mulai dari bahan glondongan/kayu bulat menjadi bahan mebel seperti pada alur gambar diatas adalah kayu glondong digergaji dengan ukuran sesuai dengan perencanaan akan menghasilkan bahan mentah kayu masip, sedang sisanya/limbahnya dapat diproses menjadi bahan block board seperti berikut:

Pada umumnya papan blok terdiri dari 5 lapis (satu lapisan muka, dua lapisan silang, satu lapisan inti dan satu lapisan belakang). Lapisan muka, lapisan silang dan lapisan belakang terdiri dari lembaran finir sedangkan lapisan inti terdiri dari strip-strip kayu solid berdimensi kecil (lebar < 1 cm – 12 cm dan tebal 1 cm – 2 cm).

Konstruksi papan blok sama dengan kayu lapis yaitu saling tegak lurus antar lapisan. Untuk lebih jelasnya secara ringkas proses pembuatannya terlihat pada skema diatas (Gb. 2.22.).

Persiapan strip-strip kayu untuk inti menurut Tsoumis (1991), strip inti dibuat dari kayu yang bebas dari cacat-cacat yang serius, umumnya dengan kayu yang berat jenisnya rendah dan stabilitas yang cukup tinggi, jenis yang umum digunakan adalah spruce, fir, pine, poplar dan berbagai jenis kayu tropika.

Selanjutnya dinyatakan bahwa strip berubah-ubah dalam ukuran lebar, tebal dan panjang, lebar bervariasi dari ukuran kurang dari 1 cm–12 cm, ketebalan 1–2 cm. Strip biasa diproduksi dengan menggergaji, tetapi strip yang tipis (0,6 – 0,8 cm) dibuat dengan mesin rotari. Ukuran strip umumnya sempit dan lebar strip dirancang dengan arah tangensial yang mempunyai kecendrungan alami melengkung jika digunakan, dan idealnya disusun berlawanan menurut lingkaran tumbuh namun prosedurnya tidak praktis dan pada industri diproduksi secara acak.

Inti dibuat dengan mesin dan jarang dengan tangan, mesin secara terusmenerus memotong strip dari awal sampai akhir, perekat diberikan sambil dipanaskan dan keluar setelah dilapisi, dimana bahagian panjang panel dirancang sebelumnya. Sedangkan inti yang dibuat secara manual, setelah diolesi perekat disusun berdampingan menghasilkan luasan panel dan di kempa.

Dalam produksi lanjutan masing-masing lembaran inti ditempatkan terpisah dan dikempa secara pelan dan bergiliran. Setelah tertata ukuran akhir, panjang dan lebar digergaji, inti diketam (diserut) untuk menghasilkan permukaan yang halus untuk persiapan pelapisan finir.

Seleksi dan persiapan finir menurut Tsoumis (1991), pembuatan papan blok, sama halnya seperti untuk pembuatan kayu lapis, lembaran finir juga harus diseleksi. Untuk tujuan dekoratif (Furniture, dinding penutup), finir lapisan permukaan harus dari kayu yang berkualitas tinggi yang diseleksi dari segi penampilan dan warna. Sebaliknya untuk lapisan belakang dan lapisan silang dibuat dari kualitas yang rendah dari jenis yang sama atau jenis lainnya. Papan blok untuk tujuan konstruksi kriteria utama adalah kekuatan bukan nilai dekoratif.

Selanjutnya dinyatakan, finir yang bernilai dekoratif diutamakan dari produksi hardwood (oak, walnut, birch, elm dan kayu-kayu tropis seperti jati, mahoni, meranti dll.) dan pada umumnya dibuat dengan cara slicing. Namun demikian finir yang dibuat dari softwood (pine, douglas-fir, spruce) dan hardwoods (poplar, beech, maple dan kayu tropika) dibuat hampir selalu dengan cara rotari, biasanya dengan ketebalan 0,6 mm – 0,8 mm untuk finir indah, dan 1,5 mm – 3 mm untuk kegunaan lainnya. Persyaratan lainnya, finir harus mempunyai permukaan dengan ketebalan seragam, dan kadar air yang sesuai. Kebanyakan finir dikeringkan sampai kadar air kurang dari 5 %. Setelah pengeringan pinggir finir dikuatkan dengan penempelan pita kertas berlobang supaya ujungnya terpelihara, kemudian disimpan dengan rapi sebelum direkat.

Pelapisan inti dengan finir yaitu inti akan dilapisi setelah dikondisikan (agar kadar airnya sama dengan kadar air lingkungan). Ketidak sempurnaan pemesinan akan menyebabkan kurangnya kualitas permukaan pada waktu pelapisan sertelah pengeringan, selanjutnya penguapan kandungan air perekat akan menghasilkan penyusutan, bekasnya seperti depresi akan terlihat pada permukaan finir panel. Penyusunan lapisan (finir dan inti) ditata secara paralel dan silang.

Perekatan menurut Tsoumis (1991), menyatakan, seperti kebanyakan proses pembuatan kayu lapis, papan blok kebanyakan direkat dengan resin thermosetting: Phenol-formaldehida digunakan untuk tipe eksterior (bermaksud untuk penggunaan di luar) dan Urea-formaldehida untuk tipe interior. Tipe interior dengan batas ketahanan air dapat diproduksi dengan meningkatkan penggunaan resin urea, dan kadang-kadang polyphenols alami (tanin) dicampur dengan resin synthetic.

Perekat disiapkan dengan waktu yang singkat sebelum digunakan dengan penambahan air, fillers, extenders dan catalysts. Resin solid bervariasi dari 22 – 30 % untuk tipe eksterior dan 12 – 18 % untuk penggunaan interior (kadang-kadang 30 % untuk urea-formaldehida). Additive untuk resin-resin phenolic mengandung furrafil. Ureaformaldehide dipersiapkan dengan menambah tepung terigu dan amonium chloride sebagai catalyst.

Selanjutnya dinyatakan bahwa perekat dipakai dengan cara roller, spray, lapisan tirai (curtain coating) yaitu suatu sistem dimana lembaran tipis dari perekat (adhesive) dilewatkan di atas finir, conveyor di bawah waduk perekat, garis rekat yang dibentuk di atas finir adalah paralel.

Penyebaran perekat pada luasan permukaan finir sangat beragam yaitu dari 100 gr/m2 – 500 gr/m2 dan ini tergantung dari beberapa faktor: kontak dengan kayu, jenis perekat dan cara aplikasi. Kebanyakan perekat dibutuhkan untuk mengikat poroduk dalam bentuk encer. Pedoman penggunaan perekat dibantu dengan mengikuti instruksi pabrik, tetapi pengujian daya ikat perekat dibutuhkan untuk control kualiti produk. Aplikasi perekat diikuti oleh pelapisan panels, pelapisan manual atau semi manual bahkan system automatic.



Selasa, 11 Maret 2014

Istilah dan singkatan bahan (Merencanakan Kebutuhan Bahan 2)

Istilah dan singkatan bahan (Merencanakan Kebutuhan Bahan 2)


 
Singkatan bahan
 
Penggunaan singkatan-singkatan yang sudah lazim dapat menghemat waktu. Singkatan-singkatan ini harus jelas dan tidak menimbulkan salah pengertian. Singkatan yang digunakan dalam gambar harus sama seperti yang tertera pada daftar material maupun data pokok material penggunaan singkatkan terus di masyarakatkan supaya tidak terjadi salah persepsi atau salah mengartikan singkatan .

(a) Bahan kayu

Tabel 2.1. Singkatan bahan kayu

AG
Agathis
BA
Bangkirai
DA
Damar
JA
Jati
KA
Kamper
KR
Keruing
MA
Mahoni
MB
Meranti Batu
ME
Merbau
MM
Meranti Merah
MP
Meranti Putih
MS
Mersawa
NY
Nyatoh
PN
Pinus
RA
Ramin
RE
Rengas
SB
Sonokembang
SE
Sengon
SL
Sonokeling
SU
Sungkai
UL
Ulin

Sumber : Pedoman Gambar Kerja, PIKA, 1997.
 

(b) Bahan lembaran

Tabel 2.2. Singkatan bahan lembaran
Blb
Blockboard
Ete
Eternit
Hab
Hardboard
Hdl
Hardboard dgn lapisan
Lak
Lembaran akustik
Lgp
Lembaran gip
Lpm/1-s
Lembaran ppn masif 1 lps
Lpm/3-s
Lembaran ppn masif 3 lps
Lta
Dengan lem tahan air
Lte
mLembaran tengah
MDF
Lembaran MDF
MDF/MA
Lembaran MDFfn mahoni
Psk
Papan semen kawul
Mel/wd
melamine wood
Mul
Multipleks
Mul/JA
Multipleks jati
Mul/MA
Multipleks Mahoni
Pkw
Papan kawul
Pkw/Fn
Papan kawul finir Tripleks
Tri/JA
Tripleks jati

Sumber : Pedoman Gambar Kerja, PIKA, 1997.
 

(c) Bahan sintetis

Tabel 2.3. Singkatan bahan sintetis
Dec
Decosheet
Dur
Durapol
Fol
Folio
For
Formika
Kar
Kaca argolit
Tac
Tacon
Kc-gr
Kaca grafir
Kc-cr
Kaca cermin
Kc-be
Kaca bening
Kc-es
Kaca es
Kc-iso
Kaca isolasi
Kc-jn
Kaca jendela
Kc-ka
Kaca kawat
Kc-kt
Kaca katedral
Kc-su
Kaca susu
Kc-pe
Kaca pelapis
Kc-pa
Kaca patri
Kc-sp
Kaca
Sumber : Pedoman Gambar Kerja, PIKA, 1997.



Senin, 10 Maret 2014

Daftar bahan (Merencanakan Kebutuhan Bahan 3)

Daftar bahan (Merencanakan Kebutuhan Bahan 3)
 

 
Dari satu segi, daftar bahan digunakan untuk kalkulasi dan sebagai dasar penyelesaian dengan atau tanpa gambar kerja.


1. Penyusunan berdasarkan kelompok bahan
Sistem ini memiliki keuntungan bahwa setiap kelompok material terlihat dengan jelas pada satu urutan. Pada bagian pemotongan dapat dilihat pembagian pada daftar atas dasar golongan-golongan yang ada, misalnya daftar untuk lembaran, kayu masif, finir, dan bahan pelapis. Kelengkapan dan kaca dapat disesuaikan dengan formulir yang telah ditetapkan.

Kerugian pada sistem ini adalah, bahwa pada pencatatan, bagian benda kerja yang sama harus dicantumkan beberapa kali penggambaran dan ukurannya, misalnya untuk lembaran, lis sisi, dan finir. Pada penyelesaiannya, luas benda kerja tidak dapat langsung diketahui.


2. Penyelesaian secara blok
Satu bagian benda kerja serta bahan-bahan yang terkait diselesaikansecara bersama-sama dan satu kali jalan, misalnya bahan dasar, lis-lis sisi, kelengkapan. Keuntungannya adalah penyelesaian yang lebih fleksibel pada suatu proses kerja. Penyelesaian secara blok memberikan informasi tentang volume dan keterangan suatu benda kerja yang nyata. Terutama pada pekerjaan seri dapat dilaksanakan pengerjaan tanpa gambar. Kerugiannya adalah tercampurnya kelompok bahan.



Minggu, 09 Maret 2014

Membuat Gambar Kerja

Membuat Gambar Kerja

Gambar kerja adalah sebuah rencana teknik sebagai landasan penyelesaian sebuah obyek. Gambar ini harus mencantumkan informasi yang lengkap, baik secara grafis maupun dengan teks.

Gambar kerja dapat mengvisualisasi rencana kerja yang memperagakan suatu penetapan dan pembentukan benda kerja / produk. Misalnya tentang: bentuk benda kerjanya; ukuran (ukuran pokok dan detail, ukuran untuk melakukan sesuatu); konstruksi (susunan bagian benda, cara memasang); bahan (jenis kayu, lembaran, engsel, kunci, bahan lain seperti kaca, kain, dsb); penampilan akhir permukaan benda (mentah, politur, vernis, cat duco, dsb),biasanya disebut reka oles atau finishing.

Petunjuk mengenai hal di atas harus jelas, sehingga tukang yang menerima gambar tidak perlu bertanya lagi, semua keterangan yang di perlukan secara umum adalah untuk mempermudah penyelesaian pekerjaan. Misalnya, gambar konstruksi yang berkali-kali dipakai, pada lembaran konstruksi khusus, pada lembaran normalisasi harus ada tanda khusus, pada gamba hanya cukup diberi keterangan singkat (bisa juga dengan warna) cara ini bisa dipakai pada pekerjaan job order maupun produksi massal/seri.

Gambar kerja yang baik adalah dapat memberi arahan jelas dengan urutan kerja mulai ukuran keseluruhan sampai ukuran rinci, alat yang dipakai, metode pengerjaan dan penyelesaian akhir. Gambar kerja meliputi: tampak, potongan vertikal, potongan horizontal dan gambar detail untuk konstruksi yang dipandang rumit. Bagian-bagian dari gambar kerja adalah gambar keseluruhan, gambar detail, dan gambar satuan. Dalam penggunaannya secara umum gambar dapat dibedakan menjadi :

1. Gambar sketsa


Gambar 2.18. Gambar Sketsa
Sumber: Pedoman Gambar Kerja, PIKA,1997.
 
2. Gambar pesanan


Gambar 2.19. Gambar Pesanan
 
3. Gambar perspektif / tiga dimensi

Gambar 2.20. Gambar Perspektif
 
4. Gambar kerja


Gambar 2.21. Gambar Kerja
Sumber: Pedoman Gambar Kerja, VEDC Malang,2008



Sabtu, 08 Maret 2014

Penggambaran pada Gambar Kerja

Penggambaran pada Gambar Kerja


 
Menurut kebiasaan dalam pandangan geometri, pada menggambar teknik, ketentuan pandangan dalam industri kayu adalah sebagai berikut :

a. Pandangan muka dan penampang frontal dibuat di atas dan segera di bawahnya digambar pandangan atas dan penampang horisontal.

b. Pandangan samping dan penampang vertikal umumnya dibuat di sebelah kanan. Kalau kedudukan di sebelah kiri memberikan keterangan yang lebih jelas, pandangan samping dan penampang vertikal harus dibuat di sebelah kiri.

c. Pandangan samping dan penampang samping yang terlihat dari sebelah kanan pandangan muka ditempatkan di sebelah kiri pandangan muka. Pandangan samping dan penampang samping yang terlihat di sebelah kiri pandangan muka, ditempatkan di sebelah kanan pandangan muka. Susunan ini menjadi kebiasaan dalam keadaan normal.

d. Kalau perabot mempunyai beberapa bagian, lebih-lebih pada perabot yang bentuk dasarnya empat persegi panjang atau bujur sangkar, maka pandangan samping dan penampang samping ditempatkan di kanan kiri.

e. Pada perabot berbentuk dasar siku-siku, dapat dipertimbangkan dua jalan yaitu menggambar perabot itu dalam keadaan siku atau menggambar perabot itu dibagi dua.
 


Jumat, 07 Maret 2014

Teknik Perkayuan untuk SMK

Teknik Perkayuan untuk SMK
 
Sampul Jilid 1
 
Teknik Perkayuan Jilid 1
Kelas 10 SMK
Pengarang:  Budi Martno, Tukiman, Bambang Wijanarko, Andreas Mulyono, Cahyo Kuncoro, Hartiyono, Kusaeri
Penerbit Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
 
Sampul Jilid 2
 
Teknik Perkayuan Jilid 2
Kelas 11 SMK
Pengarang : Budi Martno, Tukiman, Bambang Wijanarko, Andreas Mulyono, Cahyo Kuncoro, Hartiyono, Kusaeri
Penerbit Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
 
 
DAFTAR ISI
Halaman
SAMBUTAN DIREKTUR
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I. MELAKSANAKAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
    1. Mengenal Profesi Teknisi Perabot Kayu
    2. Menerapakan Kesehatan Kerja pada Pelaksanaan Pekerjaan
    3. Penerapan Keselamatan Kerja pada Pelaksanaan Pekerjaan

BAB II. MELAKUKAN PEKERJAAN PERSIAPAN PEMBUATAN MEBEL
    1. Menginterpretasikan Gambar Kerja
    2. Merencanakan Kebutuhan Bahan
    3. Membuat Gambar Kerja dan Daftar Komponen

BAB III. MELAKSANAKAN PERSYARATAN JAMINAN KUALITAS
    1. Melakukan Komunikasi Timbal Balik di Tempat Kerja
    2. Memilih Bahan Baku
    3. Merencanakan Pembelahan Log
    4. Menyimpan Bahan
    5. Mengirim Bahan

BAB IV. MENERAPKAN TEKNIK LAMINASI
    1. Mengenal Bahan Perekat Kayu
    2. Memotong Bahan Pelapis
    3. Mengerjakan Proses Laminasi Kayu

BAB V. MENGGUNAKAN PERALATAN
    1. Menggunakan Peralatan Tangan dan Listrik
    2. Menggunakan Peralatan Mesin Statis

BAB VI. MEMBUAT KOMPONEN MEBEL
    1. Menyiapkan Komponen Mebel
    2. Membuat Komponen Mebel Bentuk Sederhana
    3. Membuat Komponen Mebel Bentuk Rumit
    4. Membuat Berbagai Konstruksi mebel

BAB VII. MERAKIT MEBEL
    1. Mengukur Lokasi Ruang
    2. Menyetel Unit-unit Almari Tanam di Workshop
    3. Memasang Unit-unit Almari Tanam Pada Bangunan
    4. Memasang Asesoris mebel

BAB VIII. MELAKSANAKAN PEKERJAAN UKIR
    1. Membuat Pola Untuk Pekerjaan Ukir
    2. Mengukir Bentuk Sederhana
    3. Mengukir Bentuk Rumit

BAB IX. Mengerjakan Teknik Inlay (tatah) Kayu
    1. Memotong Komponen Inlay
    2. Memahat Permukaan Kayu Untuk Penerapan Komponen Inlay

BAB X. MELAKUKAN PEKERJAAN FINISHING KAYU
    1. Menyiapkan Pekerjaan finishing
    2. Menyiapkan Permukaan Untuk Finishing
    3. Mengerjakan Finishing Dengan Teknik Oles
    4. Mengerjakan Finishing Dengan Teknik Semprot
    5. Kesehatan dan Keselamatan Kerja

PENUTUP
LAMPIRAN A
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN B
GLOSARIUM
 

Persiapan Pembuatan Mebel : Menginterpretasikan Gambar Kerja

Persiapan Pembuatan Mebel : Menginterpretasikan Gambar Kerja

Dalam pembuatan mebel hendaknya kita mengerti lahirnya sebuah mebel hal tersebut untuk menghindari duplikasi desain sehingga diharapkan seseorang pembuat mebel tidak hanya bisa sekedar menjiplak dari yang ada atau mengkopi dari desain orang lain yang laku dipasar, dengan demikian akhirnya diharapkan juga bisa menginterprestasikan gambar kerja dengan baik.

1. Pengetahuan desain
Kata desain mengandung arti yang sangat luas yaitu suatu sistem yang berlaku untuk segala macam jenis perancangan, di mana titik beratnya adalah melihatnya sesuatu masalah/obyek tidak secara terpisah atau sendiri, melainkan sebagai suatu keseluruhan di mana satu masalah saling kait mengkait yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Merancang adalah proses mencipta bentuk melalui sketsa dari yang belum ada menjadi nyata/kenyataan dengan maksud tertentu, biasanya karya rancang adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis misalnya kursi, tidak hanya tampak menarik, tetapi harus berdiri kokoh, nyaman diduduki, dan aman digunakan.

Sehingga desain adalah upaya manusia untuk memecahkan kebutuhan fisik dengan pendekatan penyelesaian melalui keterampilan, dengan pertimbangan ekonomis, teknologi, bahan, estetis (keindahan) atau keseluruhan. Dalam budaya industri, desain adalah suatu upaya penciptaan model, kerangka, bentuk, pola atau corak yang direncanakan dan dirancang sesuai dengan tuntutan kebutuhan manusia/pemakai, dalam hal ini disebut juga konsumen akhir.

Dengan demikian desain lebih banyak dipengaruhi oleh kecepatan membaca situasi, pemenuhan kebutuhan pasar, permintaan konsumen, serta kekayaan akan ide-ide dan imajinasi untuk menciptakanya serta pengembangkan desain produk baru

Untuk mendapatkan ide, desainer bisa memperoleh inspirasi dari lingkungan kehidupan di sekitarnya yang tiada habis-habisnya dengan cara merenung, melihat, mengasosiasikan dan mengembangkan ide yang pada akhirnya mendapatkan sesuatu yang sangat berguna terhadap hasil karyanya, misalnya alam merupakan guru terbaik bagi desainer untuk mendapatkan ide, sehingga hal demikian ini banyak dijumpai suatu hasil karya yang ditemukan masih ada hubungannya dengan alam.
Proses penggalian ide masih dapat dilihat dan dianalisa dalam pikiran manusia melalui bentuk konsep yang optimal, serta penggalian ide tidak terbatas apa yang ada yang pernah kita lihat namun bisa dengan membuat trial and eror sampai mendapatkan yang dikehendaki.

Problem solving merupakan pemecahan masalah dalam mewujudkan sebuah produk baru (new product) atau penemuan baru (invention). Metode praktis berpikir inovatif adalah salah satu cara sederhana dalam membuat gagasan desain yang memiliki unsur kebaruan. Langkah ini dapat dipakai untuk mendapatkan produk baru mulai dari Perencanaan, Konsep, Desain, Gambar Kerja dan Pembuatan Model/ Prototype


2. Prinsip-prinsip desain
2.1. Proporsi (proportion)

Perbandingan antara bentuk elemen besar dan kecil. Proporsi menyangkut suatu hubungan bagian dengan bagian yang lain atau bagian dengan keseluruhan, atau antara satu obyek dan obyek yang lainnya.
Proporsi bertalian erat dengan hubungan antara bagian-bagian di dalam suatu komposisi, hubungan ini dapat berbentuk suatu besaran, kuantitas atau tingkatan.


KUBUS PENDEK JANGKUNG KURUS Perabot yang proporsinya sangat berbeda
Gb. 2.3. Proporsi

2.2. Skala (scale)
Dalam prinsip desain terdapat beberapa skala yang lazim dipakai dalam desain yaitu skala mekanik dan skala visual, skala mekanik adalah perhitungan sesuatu fisik berdasarkan sistim ukuran standar, bisa dengan cm, mm, inci, kaki dan lain sebagainya, sedangkan skala visual adalah merujuk pada besarnya sesuatu yang tampak karena diukur terhadap benda-benda lain disekitarnya.
Kita dapat mengatakan berskala kecil jika kita mengukurnya dengan membandingkan terhadap benda-benda lain yang umumnya jauh lebih besar ukurannya, begitu pula sebaliknya.

2.3. Keseimbangan (balance)
Prinsip keseimbangan dalam desain adalah menyangkut kepekaan kita terhadap ketidak-teraturan dan keseimbangan, karena ketidakseimbangan akan menimbulkan perasaan tidak tenang, tidak sesuai, sehinggga untuk mendapatkan keseimbangan harus mempertimbangankan "bobot visual", yaitu suatu elemen yang ditentukan oleh ukuran, bentuk, warna dan tekstur.
Ada dua kelompok keseimbangan yang perlu kita mengerti adalah keseimbangan formal dan keseimbangan informal
(a) Keseimbangan formal
Keseimbangan formal adalah keseimbangan yang dapat dicapai dengan menata elemen-elemen sebelah kanan dan kiri garis simetris yang mempunyai bobot visual sama contoh: meja dapur dan lampu sebelah kanan dan kiri adalah sama sama jumlahnya maupun penataanya dan mempunyai jarak yang sama terhdap garis pusat.
(b) Keseimbangan informal
Keseimbangan informal (asimetris) adalah keseimbangan yang dicapai dengan menata elemen yang tidak sama, misal mebel yang tidak sama (asimetris ) di kanan dan kiri garis, meja dan elemen dinding di kanan dan kiri garis sumbu tidak sama

2.4. Keselarasan (harmoni)
Harmoni dapat didefinisikan sebagai keselarasan atau kesepakatan yang menyenangkan dari beberapa bagian atau kombinasi beberapa bagian dalam satu komposisi. Suatu perencanaan yang unsurnya selaras, akan terasa sebagai suatu kesatuan, bukan sekadar penggabungan dari beberapa bagian yan lepas satu sama lainnya. Untuk mendapatkan keharmonian dapat digunakan unsur-unsur yang sama, akan tetapi harmoni jika dipaksakan dalam penggunaan unsur-unsur dengan aspek yang sama dapat menghasilan komposisi dengan suatu kesatuan tanpa daya tarik.

2.5. Kesatuan dan keragaman (unity dan variety)
Prinsip keseimbangan dan harmoni, dalam mencapai kesatuan, tidak mengesampingkan usaha mengejar variasi dan daya tarik, untuk mencapai kesatuan yang diinginkan dapat diusahakan tetap mempertahankan elemen yang paling dominan yang terus berulangulang, sedangkan keragaman merupakan bagian yang dapat memperkaya perbedaan namun tetap bernuansa satu.



Mendesain Perabot

Mendesain Perabot

Sebagai bagian dari bangunan termasuk mebel/perabot dan tatanan interior di dalamnya, mendesain mebel yang selama ini termasuk hal yang hanya menjadi minat seseorang makin lama menjadi tantangan banyak orang.

Sesungguhnya merupakan kesadaran pemilik akan pentingnya perabot dalam suatu ruangan, dengan cara mempertahankan bangunan lama, perabot lama menjadi daya tarik sendiri, terutama di negara kita, mebel antik lebih banyak disukai meski faktanya telah direproduksi dan di eksport, masih banyak orang yang lebih mementingkan keuntungan materi semata, dibanding memikirkan keuntungan nonmateri.

Beberapa mebel lama yang antik, seperti peninggalan-peninggalan atau bangunan lama yang hingga kini masih bisa dinikmati keindahannya, misalnya gedung sekaligus interiornya, merupakan hasil karya yang abadi, makin lama menjadi makin disukai dan makin dicari.

Perabot lama dalam bentuknya pada umumnya terdapat banyak ukiran maupun lengkungan, bahkan di lingkungan keraton masih menyisakan perabot antik masa kolonial. Seiring dengan masuknya pedagang dari Cina, India, dan Eropa, semakin kelihatan pengaruh mereka terhadap model mebel pada zaman itu. Sampai sekarang merupakan karya desain perabot yang baik untuk dipelajari.

Gb. 2.6. Potongan Emas dan Penggunaannya

Potongan emas dan penggunaanya  
Sumber : Holztechnik – Fachkunde, Dipl.-Ing Wolfgang Nutsch, 2005.

Rumusan ini dapat digunakan untuk menentukan besaran sebuah mebel meskipun juga harus memperhatikan penempatanya / tempat kedudukanya dan beberapa tuntutan lainnya seperti kesesuaian dengan penggunannya, barang yang disimpan di dalamnya dan kemudahan transportasi.

Penting untuk diperhatikan dalam melahirkan sebuah mebel adalah bentuk secara keseluruhan, serat kayu, dan tampak dari depan serta konstruksi yang sesuai dengan keadaan yang diharapkan, artinya konstruksi dapat knock down (bongkar pasang) atau mati, dapat didorong atau berdiri tetap itu semuanya harus dipikirkanya sebelum mebel diproduksi.


(a) Meja kerja satu biro

Meja kerja satu biro dapat dipakai sekretaris, guru, kepala departemen dengan dua tempat laci kanan dan kiri pemakai
a= panjang meja, 1.200 mm. b= lebar, 600 mm. c= tinggi, 750 mm. Ukuran di atas tidak harga mati, karena ukuran meja dapat disesuaikan dengan pemakai, alat kerja yang digunaan, sifat pekerjaan.


(b) Kredensa

Ketinggian Kredensa dapat disamakan dengan tingginya meja, namun dapat disesuaikan dengan kebutuhan khusus akibat fungsi lain, misalnya untuk sekat orang bekerja, untuk pembatas ruang, bahkan dapat dibuat lebih rendah, karena fungsi lain, misal di atas ditaruh buku, ordner, sedang pintu depan bisa dibuat geser (sliding door), atau kupu-tarung.


(c) Mebel dari papan

Mebel terbuat dari papan kayu, dikonstruksi sedemikian rupa sehingga papan-papan itu langsung menerima beban dan berfungsi langsung sebagai penyangga pada sistem konstruksinya, sebagai contoh dinding samping berfungsi sebagai kaki penyangga dan penutup dinding. Mebel sejenis ini lebih ramping dibanding dengan konstruksi rangka.


(d) Mebel dengan konstruksi rangka

Almari ini terbuat dari papan kayu diperkuat dengan bingkai, sehingga papan dapat dibuat tipis, dan rangka lebih tebal, papan isian pada rangka dapat juga dipakai papan buatan, mebel konstruksi rangka dengan kaki papan disusun sedemikian rupa dapat berdiri lebih stabil asal papan kaki dibuat lebih rata dan kuat. Konstruksi sambungan rangka dengan pen dan lubang dengan bantuan lem dan sekerup. Konstruksi mebel semacam ini akan lebih kuat dan stabil. Untuk mendapatkan mebel yang baik, serat kayu pada isian harus disusun sedemikian rupa sehingga rapi dan terkesan langsing. Pada sambungan papan isian biasa digunakan lidah alur, takik separo, dowel, lamelo dengan perkuatan lem putih. Selain itu ada baiknya papan isian ini dapat memakai kayu lapis seperti multipleks, blockboard, teakblock, dan lain-lain.


(e) Konstruksi rangka terpisah

Konstruksi rangka terpisah mirip dengan konstruksi rangka diatas namun hanya sebagian badan mebel dengan papan. Sedangkan untuk kaki dengan rangka kayu masip. Sambungan badan dan kaki dengan lidah alur, atau dowel yang diperkuat dengan lem dan sekerup agar lebih kuat.

Untuk memperkuat kedudukan badan mebel, pada sisi bawah ditumpu kayu (ambang bawah) yang menghubungkan konstruksi kaki samping-samping dengan perkuatan sekerup.


(f) Mebel dengan konstruksi papan buatan

Yang dimaksud papan buatan adalah papan/lembaran multipleks, block-board, teak-block dan sejenisnya. Pembuatan sambungan mebel dengan bahan sejenis ini sedikit berbeda dengan cara yang dilakukan untuk pembuatan mebel kayu pada umumnya, karena konstruksi sambungan yang kita buat dapat dilakukan dengan lebih sederhana, misal dengan dowel, lamelo, lidah alur, dan dapat dengan konstruksi knock-down.


(g) Mebel jenis almari

Disamping ini terdapat beberapa contoh mebel dari kiri ke kanan antara lain:
a. Langsung terletak pada lantai dengan pintu tanpa bingkai.
b. Dengan kaki, konstruksi mebel dengan rangka, pintu tanpa bingkai.
c. Dengan kaki berdiri sendiri, sedang badan mebel menumpang di atasnya, pintu tanpa bingkai.
d. Konstruksi mebel dengan bingkai, sehingga ada perlu papan isian (panel).
e. Badan mebel terletak langsung di lantai dengan pintu rol, membuka ke atas / ke bawah.
f. Badan mebel ditumpu kaki yang terpisah, biasanya badan mebel terbuat dari papan buatan (multipleks).
g. Mebel langsung terletak di lantai, papan penutup atas dibuat lebih lebar, dan semua pembuka memakai laci.
h. Mebel ini dibuat dengan kaki lebih tinggi, biasanya terbuat dari papan buatan (multipleks), biasanya mebel seperti ini dilengkapi dengan meja.


(h) Pintu ganda dan tunggal
 
Penentuan pintu ganda atau pintu tunggal adalah sangat tergantung dari lebar mebel, karena dengan pintu ganda diharap engsel kuat dan mampu menahan beban yang diterimanya, tahan lama. Harus dipikirkan daun pintu agar tidak memakan tempat saat dibuka sehingga tidak dapat mengganggu sirkulasi orang yang lewat didepannya.

 
(i) Almari dengan laci atas

Apabila diperlukan penyelesaian dapat dilakukan untuk atas dengan laci, dan bawah dengan pintu berengsel. Konstruksi laci dapat menggunakan peluncur metal (buatan pabrik), atau peluncur kayu bahkan tanpa peluncur. Sedangkan mebel berdiri langsung di lantai dengan tumpuan merata dengan papan supaya mebel dapat berdiri stabil.


(j) Stabilitas

Mebel harus mampu menerima dorongan dari samping, maupun pada waktu pengangkatan, untuk itu yang diperkuat adalah konstruksi sambungan pada sudut, penutup belakang, perkuatan konstruksi arah diagonal. Kekuatan ini tidak hanya mebel dalam keadaan kosong, namun juga pada waktu berisi penuh.

Ukuran dan mobilitas mebel harap dipikirkan dalam perencanaan, terutama yang berkaitan dengan tinggi plafon, lobang pintu, tikungan pada tagga, lebar tangga, kemampuan untuk mengangkut / mengangkat, sehingga dalam membuat mebel yang perlu diperhatikan, antara lain:
a. Lebar
b. Tinggi
c. Tebal
d. Sistem konstruksi


Istilah Terkait Perabot : perabot, desain perabot, cavenzi, gambar perabot, harga perabot, kedai perabot, perabot cavenzi, perabot ikea, perabot jati, perabot kayu, perabot murah, perabot rumah, perabot malaysia, perabot terpakai, jati



Facebook Comments