Rabu, 12 Maret 2014

Bahan kerja (Merencanakan Kebutuhan Bahan 1)

Bahan kerja (Merencanakan Kebutuhan Bahan 1)

Bahan kerja untuk pembuatan mebel kayu harus memenuhi syarat kekeringanya (kadar air), cacat /serat, kelas, umur dan pada umumnya kayu tua lebih tahan terhadap serangan hama.

Gambar 2.22. Proses Penyediaan Bahan
 
Bahan Mebel
Proses penyediaan bahan mebel mulai dari bahan glondongan/kayu bulat menjadi bahan mebel seperti pada alur gambar diatas adalah kayu glondong digergaji dengan ukuran sesuai dengan perencanaan akan menghasilkan bahan mentah kayu masip, sedang sisanya/limbahnya dapat diproses menjadi bahan block board seperti berikut:

Pada umumnya papan blok terdiri dari 5 lapis (satu lapisan muka, dua lapisan silang, satu lapisan inti dan satu lapisan belakang). Lapisan muka, lapisan silang dan lapisan belakang terdiri dari lembaran finir sedangkan lapisan inti terdiri dari strip-strip kayu solid berdimensi kecil (lebar < 1 cm – 12 cm dan tebal 1 cm – 2 cm).

Konstruksi papan blok sama dengan kayu lapis yaitu saling tegak lurus antar lapisan. Untuk lebih jelasnya secara ringkas proses pembuatannya terlihat pada skema diatas (Gb. 2.22.).

Persiapan strip-strip kayu untuk inti menurut Tsoumis (1991), strip inti dibuat dari kayu yang bebas dari cacat-cacat yang serius, umumnya dengan kayu yang berat jenisnya rendah dan stabilitas yang cukup tinggi, jenis yang umum digunakan adalah spruce, fir, pine, poplar dan berbagai jenis kayu tropika.

Selanjutnya dinyatakan bahwa strip berubah-ubah dalam ukuran lebar, tebal dan panjang, lebar bervariasi dari ukuran kurang dari 1 cm–12 cm, ketebalan 1–2 cm. Strip biasa diproduksi dengan menggergaji, tetapi strip yang tipis (0,6 – 0,8 cm) dibuat dengan mesin rotari. Ukuran strip umumnya sempit dan lebar strip dirancang dengan arah tangensial yang mempunyai kecendrungan alami melengkung jika digunakan, dan idealnya disusun berlawanan menurut lingkaran tumbuh namun prosedurnya tidak praktis dan pada industri diproduksi secara acak.

Inti dibuat dengan mesin dan jarang dengan tangan, mesin secara terusmenerus memotong strip dari awal sampai akhir, perekat diberikan sambil dipanaskan dan keluar setelah dilapisi, dimana bahagian panjang panel dirancang sebelumnya. Sedangkan inti yang dibuat secara manual, setelah diolesi perekat disusun berdampingan menghasilkan luasan panel dan di kempa.

Dalam produksi lanjutan masing-masing lembaran inti ditempatkan terpisah dan dikempa secara pelan dan bergiliran. Setelah tertata ukuran akhir, panjang dan lebar digergaji, inti diketam (diserut) untuk menghasilkan permukaan yang halus untuk persiapan pelapisan finir.

Seleksi dan persiapan finir menurut Tsoumis (1991), pembuatan papan blok, sama halnya seperti untuk pembuatan kayu lapis, lembaran finir juga harus diseleksi. Untuk tujuan dekoratif (Furniture, dinding penutup), finir lapisan permukaan harus dari kayu yang berkualitas tinggi yang diseleksi dari segi penampilan dan warna. Sebaliknya untuk lapisan belakang dan lapisan silang dibuat dari kualitas yang rendah dari jenis yang sama atau jenis lainnya. Papan blok untuk tujuan konstruksi kriteria utama adalah kekuatan bukan nilai dekoratif.

Selanjutnya dinyatakan, finir yang bernilai dekoratif diutamakan dari produksi hardwood (oak, walnut, birch, elm dan kayu-kayu tropis seperti jati, mahoni, meranti dll.) dan pada umumnya dibuat dengan cara slicing. Namun demikian finir yang dibuat dari softwood (pine, douglas-fir, spruce) dan hardwoods (poplar, beech, maple dan kayu tropika) dibuat hampir selalu dengan cara rotari, biasanya dengan ketebalan 0,6 mm – 0,8 mm untuk finir indah, dan 1,5 mm – 3 mm untuk kegunaan lainnya. Persyaratan lainnya, finir harus mempunyai permukaan dengan ketebalan seragam, dan kadar air yang sesuai. Kebanyakan finir dikeringkan sampai kadar air kurang dari 5 %. Setelah pengeringan pinggir finir dikuatkan dengan penempelan pita kertas berlobang supaya ujungnya terpelihara, kemudian disimpan dengan rapi sebelum direkat.

Pelapisan inti dengan finir yaitu inti akan dilapisi setelah dikondisikan (agar kadar airnya sama dengan kadar air lingkungan). Ketidak sempurnaan pemesinan akan menyebabkan kurangnya kualitas permukaan pada waktu pelapisan sertelah pengeringan, selanjutnya penguapan kandungan air perekat akan menghasilkan penyusutan, bekasnya seperti depresi akan terlihat pada permukaan finir panel. Penyusunan lapisan (finir dan inti) ditata secara paralel dan silang.

Perekatan menurut Tsoumis (1991), menyatakan, seperti kebanyakan proses pembuatan kayu lapis, papan blok kebanyakan direkat dengan resin thermosetting: Phenol-formaldehida digunakan untuk tipe eksterior (bermaksud untuk penggunaan di luar) dan Urea-formaldehida untuk tipe interior. Tipe interior dengan batas ketahanan air dapat diproduksi dengan meningkatkan penggunaan resin urea, dan kadang-kadang polyphenols alami (tanin) dicampur dengan resin synthetic.

Perekat disiapkan dengan waktu yang singkat sebelum digunakan dengan penambahan air, fillers, extenders dan catalysts. Resin solid bervariasi dari 22 – 30 % untuk tipe eksterior dan 12 – 18 % untuk penggunaan interior (kadang-kadang 30 % untuk urea-formaldehida). Additive untuk resin-resin phenolic mengandung furrafil. Ureaformaldehide dipersiapkan dengan menambah tepung terigu dan amonium chloride sebagai catalyst.

Selanjutnya dinyatakan bahwa perekat dipakai dengan cara roller, spray, lapisan tirai (curtain coating) yaitu suatu sistem dimana lembaran tipis dari perekat (adhesive) dilewatkan di atas finir, conveyor di bawah waduk perekat, garis rekat yang dibentuk di atas finir adalah paralel.

Penyebaran perekat pada luasan permukaan finir sangat beragam yaitu dari 100 gr/m2 – 500 gr/m2 dan ini tergantung dari beberapa faktor: kontak dengan kayu, jenis perekat dan cara aplikasi. Kebanyakan perekat dibutuhkan untuk mengikat poroduk dalam bentuk encer. Pedoman penggunaan perekat dibantu dengan mengikuti instruksi pabrik, tetapi pengujian daya ikat perekat dibutuhkan untuk control kualiti produk. Aplikasi perekat diikuti oleh pelapisan panels, pelapisan manual atau semi manual bahkan system automatic.



Selasa, 11 Maret 2014

Istilah dan singkatan bahan (Merencanakan Kebutuhan Bahan 2)

Istilah dan singkatan bahan (Merencanakan Kebutuhan Bahan 2)


 
Singkatan bahan
 
Penggunaan singkatan-singkatan yang sudah lazim dapat menghemat waktu. Singkatan-singkatan ini harus jelas dan tidak menimbulkan salah pengertian. Singkatan yang digunakan dalam gambar harus sama seperti yang tertera pada daftar material maupun data pokok material penggunaan singkatkan terus di masyarakatkan supaya tidak terjadi salah persepsi atau salah mengartikan singkatan .

(a) Bahan kayu

Tabel 2.1. Singkatan bahan kayu

AG
Agathis
BA
Bangkirai
DA
Damar
JA
Jati
KA
Kamper
KR
Keruing
MA
Mahoni
MB
Meranti Batu
ME
Merbau
MM
Meranti Merah
MP
Meranti Putih
MS
Mersawa
NY
Nyatoh
PN
Pinus
RA
Ramin
RE
Rengas
SB
Sonokembang
SE
Sengon
SL
Sonokeling
SU
Sungkai
UL
Ulin

Sumber : Pedoman Gambar Kerja, PIKA, 1997.
 

(b) Bahan lembaran

Tabel 2.2. Singkatan bahan lembaran
Blb
Blockboard
Ete
Eternit
Hab
Hardboard
Hdl
Hardboard dgn lapisan
Lak
Lembaran akustik
Lgp
Lembaran gip
Lpm/1-s
Lembaran ppn masif 1 lps
Lpm/3-s
Lembaran ppn masif 3 lps
Lta
Dengan lem tahan air
Lte
mLembaran tengah
MDF
Lembaran MDF
MDF/MA
Lembaran MDFfn mahoni
Psk
Papan semen kawul
Mel/wd
melamine wood
Mul
Multipleks
Mul/JA
Multipleks jati
Mul/MA
Multipleks Mahoni
Pkw
Papan kawul
Pkw/Fn
Papan kawul finir Tripleks
Tri/JA
Tripleks jati

Sumber : Pedoman Gambar Kerja, PIKA, 1997.
 

(c) Bahan sintetis

Tabel 2.3. Singkatan bahan sintetis
Dec
Decosheet
Dur
Durapol
Fol
Folio
For
Formika
Kar
Kaca argolit
Tac
Tacon
Kc-gr
Kaca grafir
Kc-cr
Kaca cermin
Kc-be
Kaca bening
Kc-es
Kaca es
Kc-iso
Kaca isolasi
Kc-jn
Kaca jendela
Kc-ka
Kaca kawat
Kc-kt
Kaca katedral
Kc-su
Kaca susu
Kc-pe
Kaca pelapis
Kc-pa
Kaca patri
Kc-sp
Kaca
Sumber : Pedoman Gambar Kerja, PIKA, 1997.



Senin, 10 Maret 2014

Daftar bahan (Merencanakan Kebutuhan Bahan 3)

Daftar bahan (Merencanakan Kebutuhan Bahan 3)
 

 
Dari satu segi, daftar bahan digunakan untuk kalkulasi dan sebagai dasar penyelesaian dengan atau tanpa gambar kerja.


1. Penyusunan berdasarkan kelompok bahan
Sistem ini memiliki keuntungan bahwa setiap kelompok material terlihat dengan jelas pada satu urutan. Pada bagian pemotongan dapat dilihat pembagian pada daftar atas dasar golongan-golongan yang ada, misalnya daftar untuk lembaran, kayu masif, finir, dan bahan pelapis. Kelengkapan dan kaca dapat disesuaikan dengan formulir yang telah ditetapkan.

Kerugian pada sistem ini adalah, bahwa pada pencatatan, bagian benda kerja yang sama harus dicantumkan beberapa kali penggambaran dan ukurannya, misalnya untuk lembaran, lis sisi, dan finir. Pada penyelesaiannya, luas benda kerja tidak dapat langsung diketahui.


2. Penyelesaian secara blok
Satu bagian benda kerja serta bahan-bahan yang terkait diselesaikansecara bersama-sama dan satu kali jalan, misalnya bahan dasar, lis-lis sisi, kelengkapan. Keuntungannya adalah penyelesaian yang lebih fleksibel pada suatu proses kerja. Penyelesaian secara blok memberikan informasi tentang volume dan keterangan suatu benda kerja yang nyata. Terutama pada pekerjaan seri dapat dilaksanakan pengerjaan tanpa gambar. Kerugiannya adalah tercampurnya kelompok bahan.



Facebook Comments